Suriya-Aceh-Info: Sejarah

Sultan Hamid II Tolak Tawaran Yahudi Menempati Palestina dengan Iming-iming Lunasi Hutang Ottoman

Property Pribadi Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh Ilustrasi doc. Pribadi © Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh: "-Sultan Hamid II Tolak Tawaran Yahudi Menempati Palestina dengan Iming-iming Lunasi Hutang Ottoman-"
Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh Sultan Hamid II Tolak Tawaran Yahudi Menempati Palestina dengan Iming-iming Lunasi Hutang Ottoman Pada 19 Mei 120 tahun lalu, Sultan Abdul Hamid II menolak tawaran tokoh Yahudi Theodor Herzl untuk menerima orang Yahudi sebagai imigran di Palestina dengan imbalan jutaan lira emas untuk melunasi hutang-hutang kekhilafahan Turki Utsmani (Ottoman).

Saya tidak bisa menyerahkan satu inci pun dari tanah Palestina,” kata Sultan Abdul Hamid II yang dianggap sebagai salah satu sultan terpenting Turki Utsmani. Sultan menolak menyerahkan Palestina kepada zionis, karena Palestina adalah tanah wakaf bagi umat Islam.

Hutang Ottoman

Ketika Sultan Abdul Hamid II mengambil alih kekhilafahan, utang luar negeri Turki Utsmani berjumlah sekitar 252 juta keping emas. Jumlah tersebut sangat besar menurut ukuran zaman itu, sehingga Sultan membujuk negara-negara kreditor untuk menurunkannya menjadi 146 juta. Untuk membayar sisanya, beberapa lembaga negara diserahkan kepada lembaga utang publik, dan dengan cara ini ia mampu melunasi utang-utang tersebut. Selama masa jabatannya, sultan sangat berhati-hati untuk tidak meminjam dari luar negeri kecuali dalam batas terkecil.

Para sejarawan mengatakan bahwa Sultan Abdul Hamid II tahu betul apa yang Zionis rencanakan. Pesan yang dikirim oleh kepala Asosiasi Yahudi Theodore Herzl, yang sejak 1882 berusaha keras untuk membuat rencana mendirikan negara Yahudi di Palestina.

Pada tahun 1876, Sultan Abdul Hamid II mengeluarkan nota hukum yang menyatakan bahwa penjualan tanah Ottoman kepada orang Yahudi dilarang keras dengan cara apa pun.

Oleh karena itu, Herzl menganggap Sultan Abdul Hamid II sebagai penghambat dan penghambat utama rencana Yahudi terkait Palestina, sehingga ia berusaha untuk meyakinkan Sultan Abdul Hamid II tentang rencana mereka di Palestina.

Sejarawan juga menceritakan bahwa Herzl mengirim surat kepada Sultan Abdul Hamid II, menawarkan kepadanya pinjaman sebesar dua puluh juta pound sterling, sebagai imbalan untuk mengizinkan orang Yahudi berimigrasi ke Palestina, dan memberi mereka sebidang tanah untuk mendirikan pemerintahan sendiri.

Sultan Abdul Hamid II dan Negara-negara Besar

Sultan secara pribadi tidak disukai oleh negara-negara Eropa; Karena jutaan orang Kristen berada di bawah kekuasaannya, dan sebagai khalifah Muslim, dia memiliki kekuatan dan otoritas spiritual atas rakyat Muslim di negara-negara Eropa.

Tidak mungkin bagi salah satu kekuatan besar untuk menancapkan kekuasaannya di daerah kekuasaan Ottoman di Eropa atau Balkan di hadapan Abdul Hamid II; Jadi ide untuk menjatuhkannya mulai menguat di London dan Paris.

Kebijakannya berkaitan dengan Universitas Islam, Perkeretaapian Hijaz dan Baghdad, dan keberhasilannya membangun Kereta Api Baghdad dengan ibu kota Jerman (sehingga ia dapat memasukkan Jerman ke dalam daftar negara pesaing di kawasan Teluk Basra yang kaya minyak. Sultan pun memastikan bahwa Inggris tidak mendekati dan melindungi perkeretaapian karena Jerman adalah pemegang konsesinya) semua Ini mengkhawatirkan Inggris, membuat Rusia tidak nyaman, dan menciptakan soliditas dalam tekad Eropa tentang perlunya menyingkirkan Sultan yang dengan kecerdasannya mampu menetralkan kekuatan Eropa.

Sultan Abdul Hamid II dan Orang Yahudi Insiden penting yang menggerakkan Eropa melawan Sultan Abdul Hamid adalah mengajukannya untuk menempatkan dan menempatkan para imigran Yahudi di Palestina, karena Eropa Kristen ingin mengekspor masalah orang-orang Yahudi yang menimpanya ke wilayah Ottoman.

Zionis mengadakan Konferensi Basel di Swiss pada 29-31 Agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan Kesultanan Turki Usmani.

Karena gencarnya aktivitas Zionis Yahudi, akhirnya pada 1900 Sultan Abdul Hamid II mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi di Palestina untuk tinggal di sana lebih dari tiga bulan. Paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas khilafah terkait. Dan, pada 1901 Sultan mengeluarkan keputusan yang mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina.

Pertemuan pertama antara Herzl, kepala Asosiasi Zionis dengan Sultan Abdul Hamid adalah setelah mediasi oleh duta besar Austria di Istanbul, pada tanggal 19 Mei 1901. Saat itu, Herzl menawarkan kepada Sultan untuk menempatkan orang-orang Yahudi di Palestina, dan sebagai ketidakseimbangannya, uang sebesar 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan; membayar semua utang Pemerintah Usmaniyah yang mencapai 33 juta poundsterling; membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta frank; memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga; dan membangun Universitas Usmaniyyah di Palestina.

Sultan menyadari bahwa Herzl menyuapnya untuk membangun rumah nasional bagi orang-orang Yahudi di Palestina. Begitu mereka menjadi mayoritas di sana, mereka akan menuntut otonomi dengan mengandalkan negara-negara Eropa. Jadi Sultan mengusir Herzl “dengan cara yang kejam” menurut sejarawan.

Dalam buku memoarnya, Sultan Abdul Hamid II mengatakan tentang mengapa dirinya tidak menandatangani keputusan ini, “Aku tidak bisa menjual meskipun sejengkal dari wilayah ini. Sebab tanah-tanah itu bukan milikku melainkan milik rakyatku. Rakyatku telah mendapatkan negeri ini dengan pertumpahan darah, dan kemudian menyiraminya juga dengan darahnya. Aku pun akan menyiraminya. Bahkan kami tidak akan mengizinkan seorang pun merampoknya dari anda. Hendaklah orang-orang Yahudi itu menyimpan jutaan uang mereka. Adapun jika pemerintahan ini runtuh dan terbagi-bagi, maka kaum Yahudi bisa mendapatkan tanah Palestina gratis. Kami sungguh tidak akan pernah membagi pemerintahan negeri ini, kecuali setelah melangkahi mayat-mayat kami. Aku tidak akan membaginya dengan tujuan apapun.”

Bagi Sultan, selama masih hidup, dia lebih rela menusukkan pedang ke tubuhnya sendiri daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah.

Adapun Herzl, setelah pertemuan itu, ia menegaskan bahwa dirinya kehilangan harapan untuk mencapai harapan orang-orang Yahudi di Palestina, dan bahwa orang-orang Yahudi tidak akan memasuki Palestina selama Sultan Abdul Hamid masih berkuasa.

Herzl meninggal pada tahun 1904. Tapi keinginannya untuk mendirikan negara Yahudi di atas tanah Palestina tak ikut mati bersama jasadnya. Dibantu oleh Barat, Zionisme Internasional yang dia dirikan berusaha mendirikan negara Yahudi di Palestina. Bahkan para Zionis bekerja sama dengan gerakan Turki Muda untuk memuluskan rencananya itu.

Ketegasan Sultan Abdul Hamid II adalah alasan utama tertundanya proyek Zionis global untuk membangun rumah nasional bagi orang-orang Yahudi di Palestina. Karena ketegasannya itu, musuh-musuh Islam tak henti-hentinya merongrong kekuasaan Sultan Abdul Hamid II. Pada masa pemerintahannya, ia harus berhadapan dengan manuver orang-orang Yahudi Dunamah yang ingin mendongkel kekuasaanya. Sejarawan telah membuktikan bahwa Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak tawaran Herzl.

Di tahun 1909, Sultan Abdul Hamid II akhirnya digulingkan melalui Revolusi Turki Muda. “Pencopotanku disebabkan karena aku bersikeras melarang Yahudi, sementara Yahudi bersikeras mendirikan tanah air mereka di atas tanah suci (Palestina),” tulis Sultan dalam catatan hariannya seperti dikutip dalam Buku Memoar Sultan Abdul Hamid II.

Kesempatan bagi para Zionis Internasional akhirnya mulai terbuka. Tahun 1914 Ottoman ikut Perang Dunia ke-1 dan mengalami kekalahan, wilayah Palestina akhirnya jatuh dan dikuasai Inggris.

Lewat lobi politisi Yahudi kepada Inggris, akhirnya di umumkan Deklarasi Balfour. Inggris mempersilahkan bangsa Yahudi dari seluruh dunia untuk bermigrasi ke Palestina dan membuat pemukimannya disana.

Puncaknya ditahun 1948, negara Israel akhirnya resmi didirikan, dan akibat yang ditimbulkan dari berdirinya negara itu adalah konflik yang berkepanjangan hingga hari ini.

Saat Pasukan Romawi Kocar-kacir Lawan Mujahidin

Property Pribadi Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh Ilustrasi doc. Pribadi © Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh: "-Saat Pasukan Romawi Kocar-kacir Lawan Mujahidin-"
Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh Saat Pasukan Romawi Kocar-kacir Lawan Mujahidin Jumlah pasukan Islam saat Perang Yarmuk terjadi adalah 27 ribu personel, sementara pasukan Nasrani berjumlah 120 ribu.

Dikutip dari buku Inilah Faktanya karya Utsman bin Muhammad al-Khamis, melihat kenyataan ini, para komandan pasukan Muslim mengirim surat kepada Abu Bakar Radhiyallahu Anhu guna memberitahukan situasi dan kondisi tersebut.

Mereka meminta dikirimkan bala bantuan. Kemudian sang Khalifah menulis surat balasan kepada mereka:

“Berkumpullah kalian menjadi satu pasukan, karena pada hakikatnya setiap kalian adalah penolong Allah Azza wa Jalla. Dan, Allah Azza wa Jalla akan menolong siapa yang menolong-Nya serta mengalahkan siapa pun yang menentang-Nya. Sungguh, pasukan seperti kalian tidak akan kalah hanya karena kuantitas, tetapi perbuatan dosa dapat mengalahkan kalian, maka dari itu, menjauhlah kalian dari perbuatan dosa”.

Di Madinah, Abu Bakar Radhiyallahu Anhu bergumam:

“Demi Allah, akan kusibukkan orang orang Nasrani dari bisikan syaitan mereka dengan kehadiran Khalid bin al-Walid”.

Lalu, dia memerintahkan Khalid bin Walid Radhiyallahu Anhu yang sedang berjihad di Irak bergegas ke Syam. Sesampainya di sana, dia akan dimandati sebagai pimpinan pasukan Muslim. Sebelum berangkat ke Syam, Khalid menunjuk al-Mutsanna bin Haritsah Radhiyallahu Anhu sebagai penggantinya di Irak.

Baru kemudian dia menuju Syam bersama 9.500 prajuritnya. Khalid menempuh jalan yang tidak pernah dilalui orang-orang sebelumnya, supaya perjalanan menjadi singkat. Pasukan ini mengarungi gurun dan padang pasir yang luas, juga menyeberangi lembah-lembah. Untuk itu, Khalid menyewa Nafi bin Umairah at-Tha-i sebagai penunjuk jalan.

Daerah yang pasukan Khalid lalui begitu gersang. Saat kehabisan air, mereka menyembelih unta kemudian memberi minum kuda-kuda dengan air yang tersimpan dalam punuk hewan ini. Akhirnya, mereka tiba di Syam setelah menempuh perjalanan selama lima hari.

Sebelumnya, salah seorang Arab Badui menegaskan kepada mereka tatkala hendak berangkat melalui jalan pintas penuh bahaya tadi: “Jika Anda sampai di pohon ini pada hari ini, maka berarti kalian selamat. Tetapi jika Anda belum sampai di sana pada waktu itu, maka kalian akan celaka”. Mereka pun sampai di tempat yang dimaksud pagi harinya.

Khalid menuturkan:

“Ketika pagi hari tiba, kaum yang berjalan semalaman pun bersyukur”.

Seiring dengan berlalunya zaman, ungkapan ini menjadi peribahasa.

Seorang Nasrani-Arab keluar untuk memata-matai para sahabat tersebut. Lalu dia melaporkan pengamatannya:

“Aku melihat sekelompok orang yang gemar beribadah di malam hari, dan mereka juga merupakan para penunggang kuda yang andal di siang hari. Demi Allah, seandainya putra raja mereka mencuri, niscaya mereka akan memotong tangannya, atau seandainya dia berzina, niscaya mereka akan merajamnya”.

Mendengar hal itu, panglima Romawi berkomentar:

“Jika apa yang kamu katakan itu benar, maka lebih baik kita mati berkalang tanah daripada bertekuk lutut di hadapan mereka”.

Ketika Khalid sampai di Syam, seorang Nasrani-Arab menemuinya seraya berkata:

“Alangkah banyaknya orang Romawi dan alangkah sedikitnya jumlah kaum Muslimin”.


Property Pribadi Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh Ilustrasi doc. Pribadi © Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh: "-Saat Pasukan Romawi Kocar-kacir Lawan Mujahidin-"
Khalid berkata:

“Celakalah kamu, apa kamu berusaha menakut-nakutiku dengan tentara Romawi? Sungguh, pasukan yang menang yang dianggap banyak, dan pasukan yang kalah yang dianggap sedikit, bukan dilihat dari kuantitasnya sebelum kemenangan atau kekalahan itu terjadi. Demi Allah, aku harap kudaku, al-Asyqar, sembuh dari sakitnya dan pasukan Romawi berkurang”.

Panglima Romawi, Haman, meminta dipertemukan dengan Khalid bin al-Walid Radhiyallahu Anhu. Khalid pun keluar untuk menemuinya.

Haman lantas menyatakan:

“Kami tahu betul yang membuat kalian keluar dari kampung halaman adalah kesulitan hidup dan kelaparan. Maka temuilah aku, niscaya akan kuberi setiap orang dari kalian sepuluh dinar, beberapa pakaian, dan bahan makanan. Setelah itu, kalian bisa pulang ke negeri-negeri kalian. Tidak hanya itu, tahun depan kami akan mengirimkan kepada kalian yang semisalnya”.

Khalid menanggapi:

“Apa yang Anda sebutkan tadi bukanlah alasan yang menyebabkan kami keluar dari kampung halaman.”

Kedua pimpinan pasukan itu berpisah, tanpa mencapai suatu kesepakatan. Para pahlawan segera terjun ke medan pertempuran, dan perang pun berlangsung sengit.

Orang Romawi maju ke medan perang seraya mengangkat salib-salib. Suara ribut prajurit-prajuritnya laksana petir. Sedangkan para uskup dan pendeta menyemangati mereka untuk terus bertempur.

Mereka bertempur dengan jumlah dan peralatan perang yang luar biasa. Kaum Muslimin lantas menyerbu balik secara serentak.

Lama mereka bertempur, hingga pasukan Romawi terdesak dan lari kocar-kacir. Perang akhirnya usai dengan kemenangan besar yang diraih umat Islam.


[Sumber: yang diambil Admin Blog Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh Silahkan Lihat Di News eramuslim]

Pengkhianatan Yahudi sehingga Terusir dari Madinah, Perang Bani Qainuqa

Property Pribadi Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh Ilustrasi doc. Pribadi © Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh: "-Pengkhianatan Yahudi sehingga Terusir dari Madinah, Perang Bani Qainuqa-"
Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh Pengkhianatan Yahudi sehingga Terusir dari Madinah, Perang Bani Qainuqa PERANG Bani Qainuqa terjadi setelah Perang Badar Kubro. Perang Bani Qainuqa merupakan peperangan yang terjadi antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi Bani Qainuqa di Madinah pada Syawal tahun ke-2 Hijriyah. Tepatnya pada Sabtu pertengahan Syawal.

Sebelum perang Bani Qainuqa pecah, kaum Muslim hidup berdampingan dengan kaum Yahudi melalui Piagam Madinah. Dalam perjanjian damai tersebut tertuang apa saja hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas-komunitas pagan Madinah, sehingga mereka menjadi satu kesatuan komunitas.

Sayangnya, kebencian kaum Yahudi terhadap Rasulullah SAW dan umat Muslim tidak terbendung. Sehingga menurut kitab-kitab sirah, pecahnya Perang Qainuqa disebabkan karena ketidaksukaan dan kedengkian kaum Yahudi yang semakin menjadi-jadi pascakemenangan kaum Muslim atas orang-orang Quraisy dalam Perang Badar.

Selain itu juga karena perilaku orang Yahudi yang kerap mengganggu kaum Muslim sehingga dianggap tidak mengindahkan perjanjian perdamaian sebagaimana tertuang dalam Piagam Madinah.

Dalam buku ‘Biografi Rosulullah’, Dr Mahdi Rizqullah Ahmad, mengisahkan mengenai penyebab pecahnya perang Qainuqa. Kaum Yahudi Bani Qainuqa dengan terang-terangan memperlihatkan kemarahan dan kedengkian mereka atas kemenangan kaum Muslimin di Perang Badar.

Hal tersebut terlihat jelas dari sikap mereka saat menghadiri undangan Rasulullah SAW setelah Perang Badar. “Saudara-saudara Yahudi, sebaiknya kalian masuk Islam sebelum apa yang menimpa kaum Quraisy itu juga menimpa kalian,” ajak Rasulullah.

Namun mereka menolak masuk Islam dan justru menyombongkan diri, seraya berseru “Wahai Muhammad, jangan terpedaya dengan keberhasilan kalian membunuh orang-orang Quraisy. Sebab, sesungguhnya mereka adalah bangsa yang tidak berpengalaman dan tidak tahu cara berperang. Sungguh, jika kalian berani memerangi kami, Engkau akan mengetahui betapa hebatnya bangsa seperti kami ini!

Allah SWT lalu menurunkan firman-Nya : “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka jahanam, dan itulah tempat yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongaan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesunggahnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang- orang yang mempunyai mata hati,” (QS Ali Imran ayat 12-13).

Keonaran kaum Yahudi semakin menjadi-jadi, hingga datang suatu kejadian di mana seorang perempuan Muslimah berbelanja di pasar Bani Qainuqo. Orang-orang Yahudi tersebut melecehkan dengan meminta agar perempuan itu menyingkap jilbabnya.

Tentunya dia menolak, tapi salah seorang dari kaum Yahudi tersebut diam-diam mengikat ujung pakaian perempuan Muslimah itu, sehingga ketika dia berdiri tersingkaplah auratnya dan membuatnya jatuh tersungkur. Perempuan itu menjerit dan minta tolong.

Melihat kejadian itu, seorang Muslim yang kebetulan berada di lokasi berusaha menolong, tetapi dia justru dikeroyok orang-orang Yahudi hingga meninggal dunia. Peristiwa tersebut membangkitkan kemarahan kaum Muslimin untuk menuntut balas atas perilaku kaum Yahudi. Maka, sejak itu bentrokan dan perkelahian antara kaum Muslimin dan Yahudi Bani Qainuqa kerap kali terjadi.

Dalam suatu riwayat Ibnu Ishak, bahwa pecahnya perang Bani Qainuqa dipicu keonaran-keonaran yang dilakukan kaum Yahudi sehingga menyebabkan pengusiran kaum Yahudi dari Madinah. Inilah penyebab utama pengusiran mereka, karena sikap mereka yang terang-terangan memperlihatkan permusuhan dan menentang kaum Muslimin. Hal itu terbukti dengan keberanian mereka untuk mengingkari perjanjian dan membuat onar di Madinah.

Rasulullah bersama kaum Muslimin melakukan aksi balasan dengan mengepung kaum Yahudi selama 15 hari 15 malam berturut-turut tanpa ada dari mereka yang masuk ataupun keluar dari tempatnya. Saat situasi semakin bahaya karena tidak ada pasokan makanan yang masuk, mereka kemudian menyerah dengan menawarkan anak-anak dan istri-istri mereka Rasulullah SAW tidak teperdaya sedikitpun. Melalui pimpinan kaum Yahudi, Abdullah ibn Ubay ibn Salul mendatangi Rasulullah. Abdullah ibn Ubay memaksa agar Rasulullah mau menerima tawaran damai kaum Yahudi tersebut.

Bahkan dengan nada mendesak, dia berkata, “Berbuat baiklah kepada kawan-kawanku. Sebanyak 400 orang tanpa senjata dan 300 tentara berbaju zirah yang telah membelaku bertahun-tahun itu akankah engkau habisi dalam sehari?” Lalu, Rasulullah menjawab dengan tegas, “Mereka semua untukmu.”

Setelah itu, Rasulullah SAW memerintahkan seluruh kaum Yahudi untuk keluar dari Madinah. Rasulullah SAW mengutus Ubadah ibn Shamit untuk mengurus persoalan tersebut.

Pada saat kaum Yahudi itu memerangi Rasulullah, Ubadah ibn Shamit telah keluar dari golongan mereka. Untuk menggambarkan peristiwa tersebut, Allah SWT menurunkan sebuah ayat yang menyinggung posisi Ubadah ibn Shamit dan Abdullah ibn Ubay ibn Salul.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka kamu akan melihat urang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana. Mudah-mudalan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya) atau suatu keputusan dari sisi-Nya. Oleh karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka,” (QS Al-Maidah: 51-52).

Hadits yang menceritakan tentang pengusiran Bani Qainuqa dari Madinah termaktub di ash-Shahihain. Menurut berbagai riwayat yang mengisahkan pengepungan ini, orang-orang Yahudi yang diusir itu adalah para pengikut dan pendukung Abdullah ibn Ubay ibn Salul.

Mereka terdiri atas orang-orang Yahudi yang sangat pemberani. Ketika mereka mulai memperlihatkan permusuhan dan kedengkian terhadap Islam, Rasulullah khawatir mereka akan melakukan pengkhianatan. Beliau pun memutuskan untuk mengakhiri perjanjian dengan Yahudi Bani Qainuqa’ secara terang-terangan.

Tindakan itu sejalan dengan firman Allah, “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS Al Anfal: 58).


[Sumber: yang diambil Admin Blog Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh Silahkan Lihat Di News Eramuslim]

Tokoh Yahudi Dalang Holocaust, Karl Haushofer

Property Pribadi Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh Doc. Pribadi © Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh: " Tokoh Yahudi Dalang Holocaust, Karl Haushofer "

Suriya-Aceh Info Anak Meulaboh Tokoh Yahudi Dalang Holocaust, Karl Haushofer Seorang Profesor Yahudi ternyata punya andil andil besar dalam kasus pengejaran dan pembunuhan orang-orang Yahudi yang dilakukan Nazi-Jerman dalam Perang Dunia II. Profesor Karl Haushofer namanya.

Karl Ernst Haushofer lahir di Munich, Bavaria (Jerman), pada 27 Agustus 1869. Dia terlahir dari keluarga Yahudi Jerman, dari pasangan Max Haushofer, seorang ekonom, dan Frau Adele Haushofer. Lulus dari sekolah atas, Karl muda mendaftar sebagai tentara Bavaria.

Karir di dinas ketentaraan, Karl menamatkan pendidikan di Lembaga Pendidikan Ketentaraan Bavaria (Kriegschule), Akademi Artileri (Artillerieschule), dan Bavarian War Academy (Kriegsakademie). Tahun 1896 Karl muda menikah dengan Martha Mayer Doss, juga seorang Yahudi.

Haushofer meneruskan pendidikannya hingga menjadi perwira tinggi dan berdinas di Angkatan Perang Kerajaan Jerman dan karirnya melejit hingga menduduki jabatan sebagai Staff Corp di tahun 1899. Bahkan pada tahun 1903, Karl Haushofer diangkat menjadi tenaga pengajar di Bavarian Kriegsakademie.

Tahun 1908, Haushofer dikirim ke Jepang guna mempelajari sistem ketentaraan di negeri Matahari Terbit itu. Di Jepang, Haushofer juga didaulat menjadi instruktur resimen artileri tentara Nippon.

Dari Jepang, Haushofer yang menguasai banyak bahasa asing selain Jerman, seperti Inggris, Perancis, dan Rusia, ditugaskan melawat ke beberapa negara Timur Jauh seperti Korea, India, Tibet, Cina, dan lain-lain.

Selama bertugas di Timur Jauh inilah, Haushofer yang memang telah lama tertarik dengan ajaran-ajaran mistis dari Timur melanjutkan penelitiannya. Dia juga menerjemahkan beberapa literatur Budhisme dan Hindu. Menurut sejumlah peneliti, ketertarikan Haushofer terhadap ajaran mistis-esoteris bukan tanpa sebab.

Latar belakang keluarganya dipercaya memang telah bersentuhan dengan hal-hal seperti ini. Haushofer merupakan salah satu tokoh dari sebuah persaudaraan mistis pemuja setan (Kabbalah).

Dari perjalanannya keliling Timur Jauh inilah, Haushofer kemudian memperkenalkan sebuah Teori Geo-Politik yang dinamakan “The Heartland Theory” yang intinya berbunyi: “Siapa pun yang bisa menguasai Heartland maka ia akan mampu menguasai World Island”.

Heartland (jantung bumi) merupakan sebutan bagi wilayah Asia Tengah, dan World Island mengacu pada kawasan Timur Tengah. Kedua kawasan itu merupakan kawasan kaya minyak bumi dan juga gas. Teori ini sesungguhnya bukan otentik dari Haushofer, namun adaptasi dari Sir Alfrod McKinder (1861-1947), seorang pakar geopolitik asal Inggris terkemuka abad ke-19.

Nicholas Spykman, seorang sarjana Amerika, menambahkan teori ini dengan mengatakan, “Siapa pun yang bisa menguasai World Island, maka ia menguasai dunia.” (Di Milenium ketiga, teori ini dianut oleh Gedung Putih sehingga Bush berambisi menguasai Afghanistan, Irak, dan negeri-negeri sekitarnya).

Haushofer dikenal dekat dengan perwira-perwira Jerman, bahkan berkawan akrab dengan dua tokoh Nazi, Adolf Hitler dan Sekretarisnya, Rudolf Hess. Kepada Hitler, Haushofer menyodorkan teori geopolitik dan juga teori ras unggul bangsa Arya. Buku karangan Hitler yang diasisteni Hess berjudul “Mein Kampf” (Perjuanganku, 1926) buku ini menjadi buku suci Partai Nazi dilatarbelakangi teori yang dikemukakan Haushofer.

Menurut Haushofer, agar bangsa Jerman bisa menjadi bangsa terkuat di dunia, maka ras Arya harus memurnikan dirinya dan menyingkirkan semua orang Jerman yang bukan berasal dari ras ini. Teori Charles Darwin juga Yahudi pun dikemukakan oleh Haushofer sehingga Adolf Hitler menjadi semakin jatuh dalam pengaruhnya.

Berkat pengaruh dari Haushofer inilah, ketika Nazi berkuasa, maka dilakukan pemurnian ras Arya secara besar-besaran. Semua orang Jerman yang bukan berasal dari ras ini dikejar-kejar dan dihancurkan, secara khusus orang Yahudi yang memang banyak mendiami wilayah Jerman menjadi target utama.

Masa lalu Hitler yang memiliki hubungan yang buruk dengan orang Yahudi menambah kebenciannya terhadap bangsa yang satu ini. Secara diam-diam Haushofer memprovokasi Hitler agar terus mengejar dan mengusir orang-orang Yahudi dari Jerman dan kawasan sekitarnya.

Mengapa seorang Haushofer yang juga Yahudi Jerman berbuat seperti ini? Jawabannya bisa ditemukan dalam sebuah pertemuan rahasia 13 keluarga berpengaruh Yahudi di Judenstaat, Frankfurt, Bavaria, di kediaman Sir Mayer Amschell Rothschild pada tahun 1773.

Saat itu Rotshchild melontarkan dua rencananya. Pertama, menyusun 25 program penguasaan dunia yang kemudian kita kenal sekarang sebagai Protokolat Zionis. Yang kedua, Rotshchild menyebut nama Adam Weishaupt seorang mantan Yesuit untuk mendirikan dan memimpin organisasi konspiratif modern bernama Illuminati.

Pertemuan Frankfurt ini menyepakati, mereka harus menemukan kembali harta karun King Solomon yang mereka yakini terbenam dalam reruntuhan Haikal Sulaiman yang ada di bawah Masjidil Aqsha di Yerusalem. Caranya adalah dengan merebut Yerusalem dari tangan bangsa Palestina yang sudah ribuan tahun mendiaminya.

Seorang tokoh Yahudi bernama Theodore Hertzl ditugaskan menemui Sultan Abdul Hamid II yang kala itu menjadi Khalifah Turki Utsmaniyah agar mau menyerahkan Tanah Palestina bagi bangsa Yahudi. Sultan menolak mentah-mentah permintaan ini walau kemudian Hertzl mengiming-imingi Sultan dengan harta berlimpah. Sultan tidak bergeming sedikit pun.

Selama jantungku masih berdetak dan darahku masih mengalir, aku haramkan Tanah Palestina bagi kalian wahai Yahudi,” demikian jawaban dari Sultan. Akibatnya Hertzl dan petinggi Yahudi geram dan membuat satu strategi untuk meruntuhkan khilafah dengan memunculkan seorang Turki Muda bernama Mustafa Kemal Attaturk. Sultan Abdul Hamid II pun tersingkir. Kekhalifahan Turki Utsmani dibubarkan, dan Mustafa Kemal Attaturk menjadi pemimpin Turki dan mensekulerkan negeri itu. Satu penghalang telah tumbang. Walau demikian Yerusalem belum bisa diduduki.

Theodore Hertzl kemudian menyelenggarakan Kongres Internasional Zionisme (1897) yang diselenggarakan di Basel, Swiss. Kongres ini menyepakati bahwa seluruh Yahudi-Diaspora, istilah bagi orang-orang Yahudi yang masih terserak di seluruh dunia, agar secepatnya melakukan imigrasi ke Promise Land atau yang menurut mereka Kota Suci Yerusalem.

Seruan Kongres Internasional Zionis ini tidak ditanggapi dengan antusias. Banyak keluarga Yahudi yang sudah mapan di Eropa dan Amerika enggan pindah ke Yerusalem. Meraka menolak seruan itu walau para ketua Zionis memaksanya.

Akhirnya tidak ada jalan lain, imigrasi Yahudi ke Palestina harus melalui jalan paksaan. Harus ada satu kondisi yang memaksa orang-orang Yahudi-Diaspora agar mau pindah ke Palestina. Akhirnya Haushofer berhasil dengan gemilang mendekati Hitler dan kemudian tanpa disadari ulah Nazi mengejar-ngejar orang Yahudi mengakibatkan banyak orang Yahudi yang kabur dari negerinya dan berbondong-bondong ke Palestina.

Seperti yang telah dikemukakan oleh Norman Finkeltstein dalam “The Holocaust Industry” atau Frederich Toben, peristiwa Holocaust sesungguhnya didalangi oleh kaum Zionis-Yahudi guna memaksa orang-orang Yahudi lainnya agar mau pindah ke Palestina, lewat tangan Hitler.

Bahkan Norman Finkelstein yang juga berdarah Yahudi menentang cara-cara kotor Zionis ini. Dalam bukunya, Finkelstein membongkar mitos holocaust dan menyebutnya sebagai proyek pemerasan yang dilakukan Zionis terhadap negara-negara Eropa dan juga dunia, dengan mengorbankan kaum Yahudi Eropa yang sebenarnya enggan untuk ke Palestina.

Di akhir Perang Dunia II, Haushofer ditangkap oleh pasukan Sekutu. Pada tanggal 13 Maret 1946, Haushofer dan isterinya melakukan bunuh diri di Pähl, Jerman Barat. Mengikut jejak Adolf Hitler dan Eva Braun yang melakukan bunuh diri saat Berlin jatuh ke tangan Sekutu setahun sebelumnya.

di Tulis Oleh: Rizki Ridyasmara


[Sumber: yang diambil oleh Admin Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh Silahkan Lihat Di News CoinMarketcap]

Temui Bos Pemberontak, 14.000 Pasukan Kembali ke NKRI, Trik Soeharto Hadapi Teroris di Papua

Property Pribadi Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh Doc. Pribadi Untuk Ilustrasi Gambar Blog Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh: Temui Bos Pemberontak, 14.000 Pasukan Kembali ke NKRI, Trik Soeharto Hadapi Teroris di Papua
Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh Temui Bos Pemberontak, 14.000 Pasukan Kembali ke NKRI, Trik Soeharto Hadapi Teroris di Papua Soeharto ketika dulu menjabat Presiden RI memiliki trik tersendiri memberantas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua yang kini ditetapkan teroris.

Salah satu cara Presiden ke-2 RI Soeharto itu, yakni bertemu bos atau pimpinan KKB Papua, Lodewijk Mandatjan.

Perlu diketahui, Lodewijk Mandatjan merupakan pimpinan KKB Papua paling legendaris.

Sebanyak 14.000 anggota KKB Papua di bawah kendalinya melakukan aksi teror pada tahun 1964-1967.

Lodewijk Mandatjan bahkan pernah bertemu langsung dengan Presiden Soeharto pada 11 Januari 1969.

Lantas, apa isi pembicaraan antara Soeharto dengan pimpinan KKB Papua saat itu?

Pertama, Mandatjan bersaudara menjelaskan kepada Presiden Soeharto bahwa mereka kembali atas kemauan sendiri.

Pada kesempatan ini, Presiden Soeharto mengatakan bahwa ia menyadari masih banyak kekurangan-kekurangan dalam kehidupan rakyat di Irian Barat.

Akan tetapi, Presiden menegaskan bahwa kebahagiaan tidak turun dari langit, melainkan harus dicapai dengan bekerja keras, dengan mengusahakan pembangunan.

Barulah dengan demikian kita akan dapat memperbaiki kehidupan rakyat setahap demi setahap.

Presiden Soeharto juga menegaskan kembali tekad pemerintah untuk membangun Irian Barat sejak daerah itu diperoleh kembali dari Belanda tahun 1963.

Menurut Presiden, yang menjadi masalahnya sekarang ialah bagaimana pembangunan Irian Barat dapat diwujudkan secepatnya.

Kepada kedua Mandatjan, Presiden Soeharto juga menjelaskan tentang penentuan pendapat rakyat, di mana diminta bantuan mereka untuk ikut menyukseskannya.

Lodewijk Mandatjan menyerah

Dilansir dari buku ‘Sintong Panjaitan Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’ karya Hendro Subroto, KKB Papua Lodewijk Mandatjan melancarkan pemberontakan bermodal senapan-senapan tua peninggalan perang dunia 2.

KKB Papua

Pada 28 Juli 1965, terjadi serangan ke asrama Yonif 641/ Cenderawasih Manokwari, sehingga mengakibatkan tiga anggota TNI gugur dan empat lainnya luka-luka.

Gara-gara ini keadaan Kabupaten Manokwari mencekam.

Berbagai penghadangan dilakukan kelompok KKB Papua Mandatjan di kecamatan Warmare dan Ransiki.

Aparat keamanan di sana tak cukup menanggulangi keadaan.

Motif pemberontakan Lodewijk Mandatjan bukan semata-mata ingin memisahkan diri dengan Indonesia.

Ia juga bukan bagian dari OPM.

Mandatjan memberontak karena buruknya keadaan ekonomi pada awal Irian Barat bergabung dengan Indonesia.

Bahkan Mandatjan sendiri adalah seorang pejuang Trikora yang merasa kecewa kepada Indonesia karena hal tersebut.

Aksi teror KKB Papua pimpinan Lodewijk Mandatjan baru mereda setelah Sarwo Edhie Wibowo turun tangan.

Hal ini berawal saat Sarwo Edhie Wibowo menjabat sebagai panglima Kodam XVII/Tjendrawasih (1968-1970).

Sarwo Edhie Wibowo saat itu mau tak mau harus menghadapi sepak terjang KKB Papua pimpinan Lodewijk Mandatjan.

Sarwo Edhie Wibowo

Dalam menghadapi aksi teror KKB Papua saat itu, Sarwo Edhie Wibowo memadukan operasi tempur dengan operasi nontempur.

Menurutnya, strategi nontempur digunakan lantaran ia menganggap para KKB Papua masih merupakan saudaranya sebangsa dan setanah air.

“Kalau pemberontak kita pukul terus menerus, mereka pasti hancur. Tetapi mereka adalah saudara-saudara kita. Baiklah mereka kita pukul, kemudian kita panggil agar mereka kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi” kata Sarwo Edhie Wibowo dalam buku karya Hendro Subroto.

Untuk menghindari terjadi pertumpahan darah yang lebih banyak, Sarwo Edhie Wibowo memerintahkan melakukan penyebaran puluhan ribu pamflet yang berisi seruan agar KKB Papua kembali ke NKRI.

Sarwo Edhie Wibowo kemudian memberi tugas kepada perwira Kopassus Mayor Heru Sisnodo dan Sersan Mayor Udara John Saleky untuk menemui pimpinan KKB Papua yang bernama Lodewijk Mandatjan.

Tujuannya adalah membujuk agar Mandatjan beserta anak buahnya mau kembali lagi ke pangkuan NKRI.

Tanpa membawa senjata, Mayor Heru Sisnodo dan Sersan Mayor Udara John Saleky berjalan kaki memasuki hutan untuk menemui pimpinan KKB Papua itu.

Saat bertemu dengan Mandatjan, Mayor Heru Sisnodo berkata:

“Bapak tidak usah takut. Saya anggota RPKAD (sekarang Kopassus). Komandan RPKAD yang ada di sini anak buah saya. Dia takut sama saya. Kalau bapak turun dari hutan, nanti RPKAD yang akan melindungi bapak.”

Akhirnya, Mayor Heru Sisnodo dan Sersan Mayor Udara John Saleky berhasil meyakinkan Lodewijk Mandatjan dan anak buahnya.

Mandatjan beserta keluarga dan anak buahnya pun diantar turun ke Manokwari.

Saat bertemu dengan Mandatjan, Sintong Panjaitan berkata: “Bapak saya jamin, saya akan melindungi bapak dengan keluarga”

Pemberontakan KKB Papua pimpinan Lodewijk Mandatjan pun sebagian besar telah terselesaikan, Kopassus tinggal melakukan penyisiran untuk memburu sisa-sisa anggota KKB Papua lainnya

Dengan begitu, Sarwo Edhie Wibowo berhasil menerapkan strategi non tempurnya sehingga tak terjadi pertumpahan darah lebih banyak.


[Sumber: yang diambil oleh Admin Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh Silahkan Lihat Di News eramuslim]

Emen si Tukang Becak Hancurkan Tank Canggih Inggris

Property Pribadi Suriya-Aceh Info-Anak-MeulabohDoc. Pribadi Ilustrasi Gambar Blog Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh: Emen si Tukang Becak Hancurkan Tank Canggih Inggris
Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh Emen si Tukang Becak Hancurkan Tank Canggih Inggris - Bandung Lautan Api adalah kejadian besar yang terjadi di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia pada 23 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung.

Dalam pembumihangusan Kota Bandung tersebut, ada peristiwa heroik terhadap penjajah. Tepatnya pada 24 Maret 1946 atau 75 tahun silam, aksi teror dilancarkan sekutu Brigade MacDonald, dengan para pasukan Gurkha yang “diboncengNICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie) mendapat perlawanan rakyat.

Mengutip buku “Sekilas Sejarah Peristiwa Perjuangan Bandung Lautan Api” karya HME Karmas, dikisahkan Emen, seorang tukang becak yang ikut melakukan perlawanan bersama para pemuda dan Tentara Republik Indonesia (TRI - sekarang TNI), melakukan aksi cenderung nekat.

Emen menerjang ke atap tank baja Inggris dan menumpahkan bensin, sekaligus melempar api ke kabin tank. Sontak, tank canggih pemenang perang dunia ke II itu meledak hingga menewaskan kru tank Inggris dan juga Emen sendri.

Beberapa kejadian yang mencengangkan turut dilakukan para wanita terhadap Inggris. Di antara para kombatan wanita, tersebutlah dua nama legendaris, ‘Zus’ (sebutan wanita pada masa itu) Willy dan ‘Zus’ Susilawati.

‘Zus’ Willy yang tergabung di Kesatuan Laswi (Lasjkar Wanita) memenggal kepala seorang tentara Gurkha setelah menembaknya terlebih dulu dalam pertempuran dekat Ciroyom. Kepala tentara Gurkha itu ditebas dengan Gunto (pedang samurai) dan potongan kepalanya diserahkan pada Komandan Laswi, Ibu Arudji.

Bahkan, yang lebih ekstrem adalah ‘Zus’ Susilawati. Perwira wanita Polisi Tentara ini mengeksekusi kepala seorang Gurkha dan mengarak potongan kepala itu dari Jalan Cibadak sampai ke Markas Divisi III di Regentsweg. Dari situ, potongan kepala Gurkha itu dikirimkan ke Markas TRI di Yogyakarta.

Kisah itu benar adanya dan diungkapkan pula oleh (mendiang) Kolonel Abdoel Haris Nasution, Komandan Divisi III Siliwangi saat itu, dalam buku ‘Indonesian Destiny’, karya sejarawan Amerika Serkat, Theodore Friend.

“Suatu pagi seorang wanita pejuang muda menghentikan kudanya di depan pintu, turun dan menempatkan kepala terputus dari petugas gurkha di depan saya di atas meja bersama-sama dengan pitanya. Wanita itu dipanggil Susilowati,” beber Nasution.


[Sumber: yang diambil oleh Admin Suriya-aceh Info-Anak-Meulaboh Silahkan Lihat Di News okezone]

Guru Para Pahlawan yang Diusulkan Jadi Pahlawan, Syaikhona Kholil

Property Pribadi Suriya-Aceh Info-Anak-MeulabohDoc. Pribadi Ilustrasi Gambar Blog Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh: Guru Para Pahlawan yang Diusulkan Jadi Pahlawan, Syaikhona Kholil
Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh Guru Para Pahlawan yang Diusulkan Jadi Pahlawan, Syaikhona Kholil - Nama Syaikhona Kholil beberapa pekan belakangan ramai diperbincangkan di media massa. Tokoh ulama kharismatis asal Bangkalan, Madura itu oleh ormas Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Sejumlah partai politik (parpol) juga mengusulkan hal serupa, menjadikan Syaikhona Kholil atau Mbah Kholil sebagai Pahlawan Nasional.

Lantas siapakah Syaikhona Kholil?. Syaikhona Kholil bernama asli Muhammad Kholil. Beliau putra dari KH Abdul Lathif, warga Desa Kemayoran, Kecamatan Kota, Bangkalan. Mbah Kholil lahir pada Selasa 11 Jumadil Akhir 1235 H atau 27 Januari 1820 Masehi.

Sejak kecil, beliau dididik sangat ketat oleh ayahnya. Mbah Kholil kecil memang menunjukkan bakat yang istimewa, kehausannya akan ilmu, terutama ilmu Fiqh dan nahwu. Bahkan, beliau sudah hafal dengan baik Nazham Alfiyah Ibnu Malik (seribu bait ilmu Nahwu) sejak usia muda.

Melihat bakatnya dalam ilmu agama yang luar biasa, orang tua Mbah Kholil kecil mengirimnya ke berbagai pesantren untuk menimba ilmu. Mengawali pengembaraannya, Mbah Kholil muda belajar kepada Kiai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur.

Dari Langitan pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian pindah ke Pondok Pesantren Keboncandi, Pasuruan. Selama belajar di Pondok Pesantren ini beliau belajar pula kepada Kiai Nur Hasan di Sidogiri, 7 kilometer (km) dari Keboncandi.

Kehausannya akan ilmu agama terus bertambah. Mbah Kholil muda berkeinginan untuk menimba ilmu ke Makkah. Niatnya itu tidak disampaikan kepada orangtuanya, apalagi meminta ongkos kepada orangtua. Mbah Kholil akhirnya pergi ke pesantren di Banyuwangi dan nyambi menjadi “buruh” pemetik kelapa pada gurunya. Untuk setiap pohonnya, dia mendapat upah 2,5 sen.

Uang yang diperolehnya tersebut dia tabung. Sedangkan untuk makan, Mbah Kholil menyiasatinya dengan mengisi bak mandi, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak teman-temannya.

Menginjak usia 24 tahun, Mbah Kholil memutuskan untuk pergi ke Makkah. Di Mekkah, Mbah Kholil belajar dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten). Di antara gurunya di Makkah ialah Syeikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani. Beberapa sanad hadits yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa).

Sewaktu berada di Mekkah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mbah Kholil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar. Sepulangnya dari Mekkah, Mbah Kholil dikenal sebagai seorang ahli Fiqh dan Tarekat.

Bahkan beliau dikenal sebagai salah seorang Kiai yang dapat memadukan kedua hal itu dengan serasi. Dia juga dikenal sebagai al-Hafidz (hafal Al-Qur’an 30 Juz). Sepulang dari Mekkah, Mbah Kholil mendirikan pesantren di daerah Cengkubuan, Bangkalan.

Tak butuh waktu lama, banyak santri berdatangan dari desa-desa sekitarnya. Namun, setelah putrinya, Siti Khatimah dinikahkan dengan keponakannya sendiri, yaitu Kiai Muntaha, pesantren di Cengkebuan itu kemudian diserahkan kepada menantunya.

Mbah Kholil kemudian mendirikan pesantren lagi di daerah Demangan, 1 km dari pesantren lama. Di pesantren baru ini, Mbah Kholil juga cepat memperoleh santri lagi, bukan saja dari daerah sekitar, tetapi juga dari Pulau Jawa.

Santri pertama yang datang dari Jawa tercatat bernama Hasyim Asy’ari, dari Jombang. Kemudian banyak santri-santri lain yang menimba ilmu agama dari Mbah Kholil. Selain KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang ada juga KHR. As’ad Syamsul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947–1971).

KH. Bisri Syansuri, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.KH. Maksum, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah. KH. Bisri Mustofa, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang. KH. Muhammad Siddiq, Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.

KH. Muhammad Hasan Genggong, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. KH. Zaini Mun’im, Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo dan puluhan kiai besar lainnya.

Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya Abdul A’la menyebut, Syaikhona Kholil memiliki banyak santri yang tersebar ke seluruh penjuru Nusantara. Bahkan, sebagian diantaranya menyandang gelar pahlawan nasional.

Seperti pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hazbullah hingga KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo.

“Pada zamannya, Syaikhona Kholil adalah episentrum keilmuan agama Islam di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, salah satu ajaran Syaikhona Kholil yang masih relevan sampai saat ini dan selalu dipegang teguh oleh semua muridnya adalah hubbul wathan minal iman atau cinta Tanah Air adalah sebagian dari iman. Sehingga, kata dia, penetapan Syaikhona Kholil sebagai pahlawan nasional tidak memiliki alasan untuk ditunda.

“Signifikansi Syaikhona Kholil sebagai pahlawan nasional bukan hanya berjuang untuk menginspirasi perjuangan untuk kemerdekaan, tapi juga mempersiapkan bagaimana mengisi kemerdekaan serta peradaban Islam Nusantara,” ujarnya.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa juga sangat mendukung usulan gelar pahlawan nasional kepada Syaikhona Kholil. Menurutnya, jasa ulama yang wafat pada pada 29 Ramadhan 1343 H/ 24 April 1925 Masehi itu terhadap bangsa dan negara saat masa perjuangan tak perlu diragukan lagi.

“Sehingga beliau sangat layak mendapatkan gelar pahlawan nasional,” kata Khofifah.

Ia berpesan agar tim khusus yang menangani usulan gelar pahlawan nasional Syaikhona Muhammad Kholil supaya bekerjasama dengan berbagai elemen untuk mengumpulkan dan melengkapi berbagai dokumen yang diperlukan.

“Kelengkapan dokumen yang dibutuhkan oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) maupun Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) harus disiapkan dengan baik karena itu berjenjang dan menjadi penentu cepat tidaknya untuk disetujui Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan untuk diusulkan kepada Presiden. Jangan sampai seperti saat mengusulkan Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional yang tertunda karena ada sangkalan dari beberapa pihak,” jelas Khofifah.

Gubernur perempuan pertama di Jatim itu mengakui TP2GD Kabupaten Bangkalan telah melakukan kajian dan sarasehan pada 15 Januari 2021. Kemudian ditindaklanjuti Bupati Bangkalan dengan menerbitkan surat rekomendasi untuk usulan gelar pahlawan nasional kepada Alm Syaikhona Muhammad Kholil.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jatim, M Alwi mengatakan, Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) provinsi juga sudah melakukan kajian. Hasilnya, masih ada beberapa dokumen yang perlu dilengkapi seperti nama, tempat dan tanggal lahir, pendidikan, tempat dan tanggal meninggal, serta riwayat perjuangan secara kronologis.

“Dokumen pendukung seperti foto 5R tiga lembar juga sangat penting jangan sampai berubah-berubah. Selain itu tolong diperbanyak pengabadian nama Syaikhona Muhammad Kholil melalui sarana monumental disertai surat keterangan dan foto,” pinta Alwi.

Setelah dokumen-dokumen kelengkapan itu terpenuhi, kata dia, Gubernur Jatim akan segera mengirim pengajuan usulan kepada Menteri Sosial (Mensos). Kemudian digodok oleh TP2GP lalu oleh Mensos diajukan ke Presiden melalui Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan guna mendapatkan persetujuan penganugerahan gelar pahlawan nasional sekaligus tanda kehormatan lainnya.

di Tulis Oleh: Lukman Hakim


[Sumber: yang diambil oleh Admin Suriya-aceh Info-Anak-Meulaboh Silahkan Lihat Di News sindonews]

Di Balik Sejarah Panjat Pinang dan Balap Karung Pelecehan Belanda

Property Pribadi Suriya-Aceh Info-Anak-MeulabohDoc. Pribadi Ilustrasi Gambar Blog Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh: Di Balik Sejarah Panjat Pinang dan Balap Karung Pelecehan Belanda
Suriya-Aceh Info-Anak-Meulaboh Di Balik Sejarah Panjat Pinang dan Balap Karung Pelecehan Belanda - Setiap perayaan hari kemerdekaan Indonesia, lomba panjat pinang dan balap karung adalah menu wajib yang selalu hadir. 

Tua muda selalu antusias berpartisipasi dalam lomba yang memang sangat seru ini. Namun tahukah Anda? dibalik kemeriahan suasana panjat pinang dan balap karung tersimpan kisah suram tentang asal usul permainan rakyat ini.

Bila kita mengadakan lomba panjat pinang dan balap karung setiap 17 Agustus, dulu sebelum Indonesia merdeka ternyata lomba ini telah diadakan, namun beda tanggal. Pemerintah Belanda menggelarnya setiap tanggal 31 Agustus untuk memperingati ulang tahun Ratu Wilhemina.

Disinilah pribumi dilecehkan, orang-orang pribumi yang bersusah payah jatuh bangun memanjat tiang licin ini menjadi hiburan tersendiri bagi orang Belanda. Mereka memandang pribumi begitu lucu karena mau berebut untuk sesuatu yang bagi mereka tak berharga.

Begitu juga dengan lomba balap karung. Bukti sejarah juga menunjukkan permainan ini telah ada sejak jaman penjajahan. Konon orang-orang pribumi begitu sulit hidupnya hingga mereka hanya mampu berpakaian dengan karung goni. Karena kesal, mereka mneginjak-injak karung dan entah bagaimana akhirnya kekesalan mereka itu berubah menjadi sebuah permainan adu lari memakai karung.

Bila ditelusuri, ternyata balap karung juga bukan hanya ada di Indonesia. Sebuah foto memperlihatkan beberapa tentara Jerman pada masa Perang Dunia II sedang lomba balap karung dengan serunya. Mana versi yang benar, belum ada penelitian lebih lanjut tentang itu.

Beberapa pemerhati sejarah telah mengusulkan permainan ini dihapuskan dari perayaan hari kemerdekaan. Mereka menganggap permainan tersebut merupakan peninggalan Belanda yang melecehkan pribumi sehingga tidak pantas dilestarikan.

Namun hal itu tak mudah dilakukan karena panjat pinang telah mengakar dalam budaya Indonesia. Banyak orang yang mengatakan agar jangan terlalu mempermasalahkan latar belakang sejarah. Ambil saja nilai positifnya. Panjat pinang mempunya filosofi positif tentang sebuah kerjasama tim sementara balap karung membawa semangat persaingan penuh hiburan. Benarkah demikian?


[Sumber: yang diambil oleh Admin Suriya-aceh Info-Anak-Meulaboh Silahkan Lihat Di News eramuslim]
household equipment and appliances, fashion, electronics, hobbies, mothers & children and others - others